Kepustakaan :
cheton. 2010. Ekosistem Hutan Mangrove di Pesisir Cirebon, Jawa Barat. http://cheatonunpad.wordpress.com/2010/03/27/ekosistem-hutan-mangrove-di-pesisir-cirebon-jawa-barat/

Fauzan Maulana. Ekosistem Hutan Mangrove di Pesisir Cirebon, Jawa Barat. http://ojanmaul.wordpress.com/2010/03/31/ekosistem-hutan-mangrove-di-pesisir-cirebon-jawa-barat/

Menurut Steenis (1978) mangrove adalah vegetasi hutan yang tumbuh diantara garis pasang surut. Dan menurut Nybakken (1988) bahwa hutan mangrove adalah sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan suatu komunitas pantai tropic yang didominasi oleh beberapa spesies pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin.

Hutan Mangrove Hutan Mangrove

Mangrove adalah vegetasi hutan yang tumbuh dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut, sehingga lantainya selalu tergenang air. Tumbuhan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Kata mangrove adalah kombinasi antara bahasa Portugis mangue dan bahasa Inggris grove(Macneae 1968 dalam Anonim 2009). Adapun dalam bahasa Inggris kata mangrove digunakan untuk menunjuk komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah jangkauan pasang – surut maupun untuk individu-individu spesies tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut. Sedangkan dalam bahasa Portugis kata mangrove digunakan untuk menyatakan individu spesies tumbuhan, sedangkan kata mangal untuk menyatakan komunitas tumbuhan tersebut. Nybakken (1988) mengatakan bahwa hutan mangrove adalah sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan suatu komunitas pantai tropic yang didominasi oleh beberapa spesies pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin. Mangrove tumbuh disepanjang garis pantai tropis sampai sub tropis.

Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur. Sementara ini wilayah pesisir didefinisikan sebagai wilayah dimana daratan berbatasan dengan laut. Batas wilayah pesisir di daratan ialah daerah-daerah yang tergenang air maupun yang tidak tergenang air dan masih dipengaruhi oleh proses-proses bahari seperti pasang surutnya laut, angin laut dan intrusi air laut, sedangkan batas wilayah pesisir di laut ialah daerah-daerah yang dipengaruhi oleh proses-proses alami di daratan seperti sedimentasi dan mengalirnya air tawar ke laut, serta daerah-daerah laut yang dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan manusia di daratan seperti penggundulan hutan dan pencemaran.

Kawasan pesisir dan laut merupakan sebuah ekosistem yang terpadu dan saling berkolerasi secara timbal balik. Masing-masing elemen dalam ekosistem memiliki peran dan fungsi yang saling mendukung. Kerusakan salah satu komponen ekosistem dari salah satunya (daratan dan lautan) secara langsung berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem keseluruhan. Hutan mangrove merupakan elemen yang paling banyak berperan dalam menyeimbangkan kualitas lingkungan dan menetralisir bahan-bahan pencemar.

Mangrove mempunyai peranan ekologis, ekonomis, dan sosial yang sangat penting dalam mendukung pembangunan wilayah pesisir. Kegiatan rehabilitasi menjadi sangat prioritas sebelum dampak negatif dari hilangnya mangrove ini meluas dan tidak dapat diatasi (tsunami, abrasi, intrusi, pencemaran, dan penyebaran penyakit).

Hutan Mangrove

Tetapi hutan mangrove di pantai utara (pantura) Cirebon, Jawa Barat, terjadi kerusakan yang semakin luas. Saat ini hutan mangrove di Kabupaten Cirebon tinggal 70 hektare atau 5,4 kilometer (km) dari 54 km garis pantai.

Berdasarkan pantauan, dari 54 km garis pantai di wilayah Cirebon hanya ada 10% dari yang kondisinya baik dan masih ditumbuhi hutan mangrove. Selebihnya mengalami pendangkalan yang antara lain disebabkan tumpukan sampah serta abrasi.

Tidak hanya itu, sampah yang terdiri dari plastik, kain hingga kaleng pun menggunung di tepi pantai. Bahkan tidak hanya di Pantai Pasindangan, tumpukan sampah pun ditemukan di hampir semua muara sungai di sepanjang pantai Kabupaten dan Kota Cirebon. Antara lain di muara Sungai Bondet, Kesenden, Cangkol, Mundu hingga Gebang.

Sebagai negara kepulauan yang memiliki hutan bakau terluas di dunia, sudah sepantasnya jika Indonesia menjaga kelestariannya. Hutan bakau yang telanjur rusak untuk kegiatan ekonomi, baik untuk kegiatan pertambakan (udang, ikan, dan kepiting), permukiman, perkebunan maupun kegiatan lainnya harus segera dihentikan. Yang sudah rusak harus segera dikembalikan ke fungsi semula, sebagai hutan mangrove.

Yang masih ada harus dipertahankan, jangan lagi menambah kerusakan. Sebab, hutan mangrove itu sebagai sabuk hijau (green belt) yang bisa menjadi benteng tangguh agar daratan tidak tergerus ganasnya gelombang laut.

Jika hutan bakau terus dirusak, bencana ekologis, seperti abrasi pantai dan banjir, menjadi hal yang tak terelakkan. Bahkan, tak jarang memakan korban jiwa dan kerugian materil sangat besar. Parahnya lagi, perusakan hutan bakau akan menghancurkan tata hidup ekosistem.

Sayangnya, perusakan hutan bakau terus terjadi, baik yang berada di kawasan (K) hutan atau tanah negara, maupun di nonkawasan (NK) atau hutan mangrove yang berada di luar kawasan hutan dan di luar tanah negara.

Menjaga dan melakukan konservasi hutan mangrove sangat penting dilakukan. Sebab, hutan mangrove yang rusak akan mengakibatkan terancamnya desa-desa di pesisir pantai.

Jangan biarkan pantai kita rusak terus akibat hilangnya ekosistem hutan bakau. Semua harus bergandeng tangan untuk menyelamatkan hutan bakau yang merupakan sumber kehidupan manusia maupun flora dan fauna. Jangan biarkan desa-desa pesisir pantai tenggelam akibat kerusakan hutan mangrove dan abrasi.

Rantai Makanan

Hutan Mangrove

Rantai makanan detritus dimulai dari proses penghancuran luruhan dan ranting mangrove oleh bakteri dan fungi (detritivor) menghasilkan detritus. Hancuran bahan organik (detritus) ini kemudian menjadi bahan makanan penting (nutrien) bagi bakteri, fungi, cacing, crustacea, moluska, dan hewan lainnya. Bakteri dan fungi dimakan oleh sebagian protozoa dan avertebrata. Kemudian protozoa dan avertebrata dimakan oleh karnivor sedang (ikan-ikan kecil), yang selanjutnya dimakan oleh karnivor tingkat tinggi (ikan-ikan besar, bangau).

Siklus Materi
Karena terjadi proses makan memakan, maka di dalam rantai makanan juga terjadi pengalihan energi, yang berasal dari satu organisme yang dimakan, ke organisme pemakan. Sumber asal energi dalam rantai makanan adalah matahari. Kimball (1987) mengatakan tumbuhan hijau menghasilkan molekul bahan bakar lewat proses fotosintesis hanya dengan menangkap energi matahari untuk sintesis molekul-molekul organik kaya energi dari prekursor H2O dan CO2.dan udara. Di dalam ekosistem mangrove yang juga termasuk kategori tumbuhan adalah tanaman mangrove itu sendiri dan fitoplankton. Selanjutnya secara berantai tumbuhan itu dimakan oleh organisme tingkatan trofik yang lebih tinggi, yang secara tidak langsung terjadi poses pengalihan energi didalamnya.

Fungsi Siklus Hara
Detritus hutan ini, terutama tersusun atas dedaunan dan cabang-cabang mangrove yang gugur, menyediakan nutrien bagi ekosistem mangrove dan laut. Hal ini mendukung berbagai jenis hidupan laut dalam jaring-jaring makanan yang kompleks yang terhubung secara langsung dengan detritus atau secara tidak langsung dengan plankton dan alga epifit. Plankton dan alga merupakan sumber utama karbon pada ekosistem mangrove disamping detritus. Hutan mangrove merupakan ekosistem produktif yang mendukung sejumlah besar kehidupan melalui rantai makanan yang dimulai dari tumbuh-tumbuhan.

Daun tumbuhan mangrove, menggunakan sinar matahari untuk mengubah karbon dioksida menjadi senyawa organik melalui proses fotosintesis. Karbon yang diserap tumbuhan selama fotosintesis, bersamaan dengan nutrien yang diambil dari tanah, menghasilkan bahan baku untuk pertumbuhan. Pertumbuhan pohon mangrove sangat penting bagi keberlanjutan hidup semua organisme. Terurainya daun, batang, dan akar mangrove yang mati menghasilkan karbon dan nutrien yang digunakan oleh organisme lain dalam ekosistem tersebut. Tidak ada yang menjadi sampah dalam ekosistem mangrove. Tumbuhan mangrove merupakan lumbung sejumlah besar daun yang kaya nutrien yang akan diuraikan oleh fungi dan bakteri atau langsung dimakan kepiting yang hidup di lantai hutan. Material organik yang mati diuraikan menjadi partikel-partikel kecil (detritus) oleh sejumlah besar bakteri yang kaya protein.

Detritus merupakan sumber makanan bagi beberapa spesies moluska (siput), Crustacea (kepiting dan udang) dan ikan, yang selanjutnya menjadi makanan bagi hewan yang lebih besar. Nutrien yang dilepaskan ke dalam air selama periuraian daun, kayu dan akar juga dimakan plankton dan alga.

Keragaman jenis yang dimiliki hutan mangrove di Indonesia merupakan tertinggi di dunia dengan total spesies sebanyak 89, terdiri dari 35 spesies tanaman, 9 spesies perdu, 9 spesies liana, 29 spesies epifit, 5 spesies terna dan 2 spesies parasitik, (Nontji, 1993). Contoh jenis-jenis pohon mangrove yang dikenal misalnya pohon bakau (Rhizophora spp), pedada (Rhizophora spp), tajang (Bruguiera spp) dan api-api (Avicennia spp).
Hewan laut yang dominan dalam ekosistim hutan mangrove ialah moluska, krustacea dan beberapa ikan yang khas. Moluska diwakili oleh beberapa siput yang pada umumnya hidup pada akar dan batang pohon mangrove. Terdapat pula siput pemakan detritus yang hidup pada lumpur di dasar akar.

Beberapa contoh organisme yang dapat ditemui di ekosistem mangrove

Rujukan Bacaan :

Penulis

Christon. Penuils dilahirkan pada 31 Agustus di Bandung dan sedang menjalani pendidikan Strata 1 di Universitas Padjadjaran dengan Program Studi Ilmu Kelautan. Menyukai bidang Informatika.

Fauzan Maulana. Penulis dilahirkan pada 31 Oktober di Serang dan sedang menjalani pendidikan Strata 1 di Universitas Padjadjaran dengan Program Studi Ilmu kelautan. Menyukai bidang lingkungan