Geologi Kelautan

Seperti kita ketahui bahwa Indonesia adalah negara kepulauan, yang sebagian besar wilayahnya adalah berupa lautan. Sejumlah 17.508 pulau, baik pulau besar dan kecil terdapat di Indonesia, dengan panjang garis pantai 81.000 km, yang merupakan terpanjang ke 2 di dunia, dan luas wilayah 21 juta km2, Indonesia merupakan negara yang luas dan kaya. Luas dalam arti sangat besar wilayahnya dan keanekaragaman wilayahnya mulai dari daratan, kepulauan, sampai lautannya. Serta kaya dalam artian sangat berpotensi mempunyai kekayaan alam di wilayah yang sangat luas yang dimilikinya, baik di daratan maupun di lautan, karena seperti kita ketahui sebagai seorang ahli geologi, yang telah memahami proses-proses geologi, seperti tektonik lempeng dan lain sebagainya, bahwa Indonesia berada di zona yang sangat berpotensi terdapatnya sumberdaya alam yang berlimpah.

Geologi kelautan sendiri secara prinsip hampir sama dengan geologi dipermukaan atau didaratan, baik itu proses-proses geologinya dan lain sebagainya, hanya saja permukaannya tertutupi suatu massa air. Dalam Geologi kelautan seperti juga kita mempelajari geologi di daratan, akan menampakkan juga suatu kenampakkan geomorfologi, hanya saja sekali lagi kenampakkan itu tertutup oleh massa air. Dalam mempelajari Geologi kelautan, ada beberapa  istilah kenampakkan geomorfologi seperti halnya kenampakkan geomorfologi didarat, beberapa diantaranya yaitu :

Coastal Plain             : Suatu perbatasan antara daratan dan lautan yang masih dipengaruhi oleh proses-proses di daratan dan lautan

Continental shelf      : Terbentuk ke arah lautan, kemiringan bertambah ke arah lautan, kedalaman rata-rata 3000 -6000 m, lebar 200 – 300 km

Continental Slope    : Pada tepian paparan kedalaman bertambah secara tiba-tiba, 100, 200 m , 1500 m, 3500 m, kemiringan terjal, terdapat gawir sesar

Continental Rise       : Terletak antara slope (lereng) dan Ocean basin, kemiringan tidak terjal, relief rendah, terbentuk akibat akumulasi sedimen, berasosiasi dengan lantai samudra dalam

Abysal plain             : Diketemukan oleh ekspedisi MAR (1947), berbentuk dataran bawah laut

Oceanic ridge           : Terdiri dari pematang, dan rekahan, menyebar hampir di seluruh samudra, total panjang 80.000km, kedalaman rata-rata 2500m, terbentuk di bagian tengah lautan, topografi kasar, lembah sejajar dengan sumbu kadang-kadang terpotong oleh zona rekahan, tinggi 1000-3000km, lebar 1000m, sedimentasi berkembang  jauh di bawah puncak

Ocean basin floor     : Terdiri dari abyssal floor (lantai tubir), oceanic rise (tonjolan dasar laut dan sea mount (gunung api dasar laut)

Rekahan                     : Berbentuk linier, berbentuk gawir, seamount, melebar dan memotong ridge

Abyssal hill               : Berbentuk relatif sempit dan tajam, tingginya tidak lebih 1000m. Dimensi bervariasi antara 1-15km, kemiringan 1-15 derajat, terbentuk secara mengelompok , bentuk tergantung batuan dasar

Sea mount                 : Tingginya mencapai lebih kurang 1000m, tersebar pada dasar laut dalam secara terpencar, kemiringan berkisar antara 5 sampai 15 derajat dan berbentuk kerucut

Marginal trench        : Berbentuk sempit dan sejajar dengan tepian benua, pada umumnya tersebar di samudra pasifik, kerak dibawahnya bersifat continental, kedalaman rumpang paparan rata-rata 130 m, lebar 400 km(rata-rata 78km), kadang-kadang berbentuk teras, dipengaruhi oleh proses erosi dan sedimentasi.

Istilah-istilah diatas menjelaskan kepada kita tentang kenampakan morfologi dasar laut yang tidak selalu akan kita lihat seperti halnya kita melihat kenampakkan morfologi didarat, tentu saja karena morfologi dasar laut ditutupi oleh massa air diatasnya.

Selain daripada aspek geomorfologi, dalam kerangka geologi kelautan seperti halnya proses geologi yang terjadi di darat, juga terdapat pengaruh sedimentasi, baik itu sedimen di daerah dekat pantai (Nearshore) ataupun di perairan laut dalam (Deepsea).  Sedimentasi di laut sangat penting artinya dalam kerangka geologi kelautan, diantaranya adalah karena morfologi permukaan dasar laut juga ikut dikontrol oleh pengaruh supply sedimen, juga batas-batas antar bagian-bagian morfologi dasar laut juga ikut dikontrol oleh sedimentasi.  Disamping itu proses sedimentasi di laut juga akan mempengaruhi proses-proses di bagian lainnya, sebagai contoh sedimen di daerah dekat pantai dan paparan merupakan kunci bagi sedimen di laut dalam dan dipengaruhi oleh:

•         perubahan muka air laut

•         proses penurunan dasar laut

•         proses dinamika (oseanografi)

Pada sedimentasi dilaut tentunya juga terdapat material yang tersedimentasi, beberapa sumber-sumber material yang mempengaruhi sedimentasi di laut diantaranya adalah :

Material yang berasal dari sungai, meliputi sekitar  85% – 90%

Material hasil glasiasi, meliputi sekitar 7%

Material air tanah, meliputi sekitar 1,2%

dan material yang terangkut oleh angin sekitar 1%

Dimana sekitar 80 % dari produk yang dihasilkan sumber material tersebut merupakan bentuk larutan.

Selain daripada aspek morfologi dan sedimentologi di laut, juga perlu ditinjau aspek tektoniknya. Tektonik sangat berpengaruh bukan saja di laut, didaratpun sangat berpengaruh. Implikasi dari proses tektonik baik didarat ataupun dilaut diantaranya adalah dapat merubah tatanan yang sudah terbentuk, diantaranya akibat proses sedimentasi. Faktor utama penyebab tektonik jika dipandang dari sudut pandang ilmu geologi tentu saja dapat dijelaskan dengan baik oleh teori tektonik lempeng. Teori tektonik lempeng sangat familiar dikalangan komunitas geologi, karena sampai saat ini semua peristiwa yang menyangkut segala proses geologi yang berasal dari dalam bumi, terutama tektonisme sangat baik dijelaskan dalam teori ini. Dapat dipastikan bahwa semua komunitas geologi mengerti dan paham akan teori ini, oleh karena itu detailnya tidak akan dibahas dalam tulisan ini. Tetapi yang perlu dijadikan perhatin khusus adalah implikasinya.

Beberapa penjelasan tentang geologi kelautan diatas, yang meliputi aspek morfologi, sedimentologi, dan tektonik dilaut, kiranya dapat memberikan sedikit pengetahuan geologi kelautan yang selanjutnya akan dimanfaatkan untuk menerapkan implikasinya untuk Indonesia yang notabene merupakan negara yang memiliki laut, yang dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan.

Diantaranya, implikasi aspek geologi kelautan yang saat ini banyak diperbincangkan adalah mengenai penerapannya dalam batas wilayah. Dalam penentuan batas wilayah sendiri seperti kita ketahui regulasi nya yang dikeluarkan oleh pemerintah. Penentuan batas wilayah ini sangat penting artinya bagi Indonesia. Dan aspek geologi kelautan disini memegang peranan penting dalam penentuannya. Hubungannya dengan geologi kelautan tentu saja, disamping menyamngkut morfologi dasar laut yang dijadikan pertimbangan penentuan batas wilayah, disamping itu dari sudut pandang geologinya, sangat memegang peranan penting, yang menyangkut tentang sumberdaya alam.

Sumberdaya alam sangat penting artinya bagi semua negara, karena menyangkut kelangsungan dan kemakmuran suatu negara, atau bisa dikatakan sangat vital. Sumberdaya alam itu sendiri tentu saja dapat dikuasai oleh suatu negara asalkan dalam wilayah kekuasaannya. Seorang ahli geologi disini sangat memegang peranan penting, karena pendapatnya akan sangat diperhatikan.

Seperti kita ketahui bahwa penentuan batas wilayah sendiri sangat didorong oleh keterdapatan sumberaya mineral, hal ini sangat membuat setiap negara ingin menguasai kekayaan alam tersebut, caranya secara tidak langsung adalah melebarkan batas wilayahnya, agar dapat diakui bahwa kekayaan alam tersebut adalah milik negara tersebut.

Mengingat begitu pentingnya tinjauan geologi kelautan dalam penentuan batas wilayah yang selanjutnya berimplikasi terhadap penguasaan sumberdaya mineral. Maka, kita sebagai seorang ahli geologi tentunya berusaha untuk mempelajari sebaik-baiknya, dan menerapkannya untuk kemakmuran bangsa Indonesia.

FAUZAN MAULANA

ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN