“Baiklah dik, jika kau ingin bersamaku, tinggalkan mobilmu di kampus. Lalu berjalanlah ke gerbang pertama, aku menantimu di sana.”

Ali kali ini benar-benar ingin menguji gadis cantik yang sudah beberapa bulan ini memberikan perhatian padanya. Gadis ini dikenal manja, sementara Ali menginginkan calon pedamping hidupnya adalah sosok yang mandiri, peduli dan penuh cinta.

Terlihat dari kejauhan sesosok gemulai mulai mendekati ke arahnya. Dipakainya sebuah payung kecil berwarna pink dengan motif strobery untuk melindungi kulit putihnya yang mulus. Matanya semakin fokus menatap ke arah Ali, lalu senyuman pun mengembang penuh arti.

“Hai A, silakan, kau mau bawa kemana diriku.” Rani seolah memasrahkan dirinya sepenuh hati pada Ali.

“Ran, kulihat kau kepanasan?”

“Ya A, saya ga biasa jalan kaki di tengah terik mentari.”

“Baiklah Ran, A juga gak ingin kulitmu terbakar terik mentari. Maka, A harap mulai esok jangan kau pakai pakaian minim seperti ini lagi. Tutupilah kulitmu dengan pakaian yang anggun. Agar kulit putihmu terjaga, tak hanya oleh terik mentari, tapi juga terjaga oleh panas yang lebih dahsyat lagi kelak.

Rani menatap Ali, melihat adakah kesungguhan di wajahnya. Tak lama dia pun menyunggingkan senyumnya. “A, benarkah kau menyayangiku. Jika iya, kan kuturuti nasihatmu.”

Ali pun mengangguk. Lalu Ali mengajak Rani berjalan ke arah sebuah panti asuhan yang tak jauh dari Kampus itu.

“Mau ke mana kita A?”

Ali menatap Rani, lalu memberi isyarat agar Rani diam dan tak banyak bicara. Biarlah hanya kaki mereka yang bekerja, melangkah. Dan hati yang tetap berada di garisnya. Bertasbih untuk cinta.

Ketika sampai di halaman panti asuhan itu, anak-anak panti asuhan yang kebetulan sedang berada di halaman segera menghampiri Ali dan mencium tangannya. Anak-anak itu terlihat begitu mengenal Ali, dan Ali pun begitu ramah terhadap mereka, penuh kasih sayang.

“Aa, inikah calon istri Aa?” Seorang anak perempuan berusia 10 tahun bertanya dengan polosnya dan ditimpali oleh teman-temannya yang lain.

Ali tersenyum lalu melirik Rani yang sedang sibuk mengulurkan tangan dan bersalaman dengan anak-anak itu. “Insyaallah.” Jawab Ali singkat.

Seorang perempuan setengah baya datang menghampiri mereka. “Eh nak Ali, mari masuk nak. Ehm, ini siapa? Cantik sekali.” Perempuan itu bersalaman dan memeluk hagat Rani.

“Itu Rani Bu, teman saya.” Ali menjawab sambil tertunduk, tersipu malu.

“Ehm, akhirnya nak Ali luluh juga toh. Selamat ya nak Rani, akhirnya engkaulah perempuan yang terpilih. Perempuan tersebut membuat Rani serasa menjadi juara, sangat bangga.

Di dalam ruangan kecil namun tertata apik itu, terangkai pembicaraan ringan menyegarkan. Rani yang pada awalnya terkesan canggung, kini tidak lagi. Rani begitu menikmati pelibatan dirinya pada alur obrolan yang terangkai tanpa skenario itu. Hingga akhirnya Ali mencoba mengakhiri itu dengan mempersilakan Rani tuk memberikan amplop yang di tengah jalan tadi dititipkannya.

“Jazakallah nak Ali. Engkau memang pemuda baik hati. Semoga Allah senantiasa melipatgandakan rejekimu. Membuat rejeki yang kau peroleh senantiasa berkah, dan menjadikan rejekimu sebagai sarana mencapai Surga yang teramat indah.

“Amin”. Ali dan Rani melafalkannya serentak.

Tak lama adzan pun berkumandang. Lalu Ali berpamitan sebentar tuk menunaikan shalat dzuhur di masjid yang berada di dekat panti asuhan tersebut. Baru beberapa langkah Ali pun balik badan dan kembali menghampiri Rani. Dikeluarkan dari tasnya sesuatu berbungkus kertas kado. Lalu menyerahkannya pada Rani. “Ran, ini untukmu.” Lalu Ali pun bergegas menuju masjid.

Rani tercengang melihat apa yang Ali lakukan. Beberapa menit dia pandangi sesuatu berbungkus kado itu. Hingga akhirnya Bu Aminah, pengurus panti asuhan tersebut menyadarkannya. “Nak, bukalah!” Rani pun membukanya perlahan. Dan dilihatnya sebuah mukena putih dengan hiasan bordir sunguh indah. Air mata Rani pun berlinang, dia mencium mukena itu, penuh syukur.

Setalah meninggalkan Panti Asuhan itu. Ali mengajak Rani makan siang di sebuah warung nasi sederhana. Awalnya Rani ragu untuk makan siang di sana, namun setelah Ali terlihat begitu menikmatinya, dia pun memesan makanan dan mencoba menikmatinya. Baru kali ini Rani makan di warung makan seperti ini. Baru kali ini pula Rani makan dengan menu sesederhana ini. Amalnya mual, tapi setelah dipaksakan, ternyata toh rasanya nikmat juga. Begitulah yang Rani rasakan.

Rani melihat piring Ali begitu bersihnya, nyaris tak ada sisa makanan. Sementara Rani sudah behenti makan sedari tadi, tak perlu banyak baginya melahap nasi, takut gak langsing lagi. Ali tersenyum pada Rani.

“Ran, A akan menyampaikan beberapa hal, sebagai kesimpulan dari perjalanan kita siang ini. Apakah kau berkenan mendengarkannya?”

“Ya A, silakan!” Rani pun menjawabnya segera.

“Baiklah. Rani, ingatkah kau saat A memberikan masukan tentang pakaian di gerbang kampus tadi pagi?”

“Ya A.” Rani mejawab dengan sigap.

“Itu karena sesungguhnya A ingin kau menutupi auratmu, menjaga kehormatanmu sebagai seorang muslimah. A mengagumi gadis cantik, tapi A akan lebih mengagumi gadis yang menutup auratnya dengan baik.”

“Ran, ingatkah kenapa tadi dalam perjalanan ke panti asuhan A menitipkan amplop berisi uang kepadamu.”

“Ya A.” Rani kembali menjawab dengan sigap.

“Itu karena A ingin kau terbiasa bersedekah, peduli sesama. Karena dalam harta yang kita peroleh, ada pula bagian untuk mereka. A mengagumi orang kaya, tapi A lebih kagum pada orang yang biasa bersedekah dan peduli sesama.

“Ran, tahukah alasan A kenapa mengajakmu makan di rumah makan sederhana ini.?”

“Kenapa A?” Rani pun bertanya untuk tahu maksudnya.

“Karena A ingin kau tahu, bahwa bersahaja itu indah. Seringkali orang makan bukan hanya sekedar mengenyangkan perutnya, tapi juga meninggikan gengsinya. Padahal arti penting makanan terletak kehalalan, kesehatan dan gizinya. Bukan terletak pada kemewahan alat saji dan cara penyajiannya.”

Rani sedari tadi manggut-manggut. Dia begitu takjub berhadapan dengan lelaki ini. Kini dia tidak hanya tahu bahwa Ali bukanlah sekedar lelaki tampan dan cerdas, melainkan jauh lebih hebat dari itu. Ali adalah lelaki dengan ahlak yang indah. Bertambah tumbuh rasa cintanya.

Ali mengajak Rani kembali lagi ke parkiran kampus dimana mobil Rani diparkirkan tadi pagi. Setiba di sana, Ali memberikan amplop kecil pada Rani, sambil berpamitan dan mengucapka salam.

Rani benar-benar berkeberatan saat Ali meninggalkannya di parkiran itu. Tapi apa daya, toh Ali memang belum seutuhnya miliknya. Dia segera masuk ke mobil dan membuka amplop kecil itu.

Teruntuk Rani

Rani, kini kau tahu. Bahwa yang A dambakan adalah gadis cantik yang menutup aurat dan menjaga kehormatannya, lembut hatinya dan terbiasa bersedekah, terbiasa menjalankan ibadah, serta mandiri dan bersahaja. Tapi ada satu lagi yang juga tak kalah indah, dia harus mencintai A karena Allah.

Rani, A bangga mengenalmu. A pun kan bahagia jikalau kelak bisa halal menumpahkan cinta dan kasih sayang ini padamu.

Aku, Ali.

Tulisan ini karya dari temanku yang bernama Taufan Rianjani